Tampilkan postingan dengan label Health. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Health. Tampilkan semua postingan
Mahasiswi Ini Buat Pasta Gigi Berbahan Baku Apel

Mahasiswi Ini Buat Pasta Gigi Berbahan Baku Apel

Jempolan, Mahasiswi Ini Buat Pasta Gigi Berbahan Baku Apel - JPNN.COM

SURABAYA - Kreativitas seorang Luh Putu Widiasih patut diacungi jempol. Mahasiswi Jurusan Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya, Jawa Timur menyempurnakan pasta gigi yang diformulasikannya.
Pasta gigi itu berasal dari apel, bukan rasa apel. Dengan kurun waktu penelitian selama kurang lebih enam bulan, kulit dan biji apel dibuat jadi pasta gigi.
Pasta gigi ini bertekstur gel opaque yang dibuat dari buah apel dengan varietas manalagi.
Kini pasta gigi tersebut diperkenalkan dengan merek Apple Dyne kepada masyarakat luas yang tentu saja dari bisnisnya turut membantu perekonomian petani buah lokal.
“Bahan bakunya mudah didapat kok. Di Malang, misalnya. Jika biasanya apel hanya menjadi olahan makanan atau minuman, buah apel juga bisa dijadikan bahan pembuatan pasta gigi. Ini bisa sebagai alternatif lain pemanfaatan buah apel sendiri,” ujar Widia, sapaan akrabnya, saat ditemui di Laboratorium Farmasetika Lanjut UKWM Surabaya seperti yang dilansir Radar Surabaya (Jawa Pos Group).
Dia menjelaskan varietas manalagi dipilihnya karena pada varietas buah dengan nama ilmiah Pyrus malus ini, zat aktif katekinnya cenderung melimpah.
“Ternyata apel punya khasiat anti bakteri Streptococcus mutans. Bakteri ini adalah penyebab plak gigi yang bisa menyebabkan karies kalau tidak segera diatasi,” jelasnya.
Mahasiswi kelahiran Surabaya ini pun lantas menjelaskan proses awal pembuatan pasta gigi yang dapat dipakai oleh segala umur ini.
Mengapa Kurang Tidur Sebabkan Kantong Mata?

Mengapa Kurang Tidur Sebabkan Kantong Mata?


Setelah kurang tidur satu atau dua hari, Anda mungkin menyadari wajah jadi terlihat lelah dan tidak segar gara-gara munculnya kantong mata. 

Ada beberapa penyebab mengapa lingkaran hitam dan kantong mata langsung timbul saat kita kurang tidur. Selain faktor genetik, hal ini juga dipengaruhi faktor kebiasaan, misalnya pola makan.

"Genetik berperan paling besar," kata Dr.Carol Clinton, spesialis kulit dari Timeless Skin Solutions di Dublin.

Ia menjelaskan, kantong mata secara umum lebih terlihat pada orang yang karena faktor genetiknya memiliki kulit yang pucat dan tipis. Ini karena corak kulit tidak terlalu bisa menyembunyikan gaya hidup kita.

"Saat seseorang lelah atau stres, sirkulasi darah di area mata cenderung melambat, sehingga darah berkumpul di situ. Pembuluh darah tipis atau kapilaris juga akan meregang dan bocor sehingga muncul lingkaran hitam di sekitar mata," kata Clinton.

Selain itu, sebagian orang juga secara genetik rentan pada subluksasi, pergerakan lemak dari bawah bola maka ke bagian depan mata. 

Jika kita mengalami gerakan lemak yang maju ke depan, maka kantong mata lebih mencolok. 

Sayangnya, subluksasi itu tidak terkait dengan seberapa banyak durasi tidur kita. "Dengan kata lain, orang yang tidur 9 jam saat malam juga bisa memiliki kantong mata, karena penyebabnya adalah faktor genetik," katanya.

Penyebab lainnya adalah faktor lingkungan. Misalnya saja alergi yang bisa menyebabkan kapilaris bocor. Saat tubuh kita terpapar alergen, tubuh akan melepaskan protein yang disebut histamin. Zat tersebut menyebabkan pembuluh darah di sekitar dan dalam mata bengkak.

"Terlalu sering terpapar matahari juga akan merusak kulit, membuat lingkaran hitam di bawah mata lebih terlihat," tambahnya.

Kebiasaan mengonsumsi makanan yang asin juga menyebabkan tubuh menahan air, sehingga kantong mata semakin parah.

Sering mengucek-ngucek mata juga membuat lingkaran hitam lebih kentara, karena kebiasaan ini merangsang kapilaris yang sudah tipis itu menjadi bocor. 
Jika mata terasa gatal, kompres dengan es batu selama sekitar 90 detik untuk mengurangi rasa gatalnya. "Kompres es juga akan mengecilkan pembuluh darah dan menghentikan sensasi gatal," katanya. 


Reff: Kompas
Tahukah Anda Bahwa 5 Benda Ini Menjadi Rumah Bagi Para Kuman dan Bakteri?

Tahukah Anda Bahwa 5 Benda Ini Menjadi Rumah Bagi Para Kuman dan Bakteri?

Tanpa disadari, ada beberapa benda yang sering digunakan sehari-hari dengan banyak kuman dan bakteri di dalamnya. Agar tak kena penyakit, Anda pun harus lebih berhati-hati setelah menyentuhnya.

Seperti dikutip dari berbagai sumber, berikut 5 benda dengan banyak kuman dan bakteri yang perlu Anda waspadai:

1. Spons cuci piring dan kain dapur
Dua benda ini hampir selalu ada di dapur: spons cuci piring yang terendam air sabun dan kain dapur untuk membersihkan peralatan memasak. Dari sebuah penelitian, ditemukan bahwa benda-benda ini 86 persen memiliki jamur, 77 persen mengandung bakteri coliform, dan 18 persen positif memiliki bakteri staphylococcus.
Pesan penting: Biasakan untuk tidak merendam spons di air sabun setelah selesai digunakan. Peras dan keringkan spons setiap hari. Jangan lupa untuk menggantinya dengan yang baru secara rutin. Untuk kain dapur, usahakan untuk mencucinya paling tidak tiga hari sekali.


Tahukah Anda Bahwa 5 Benda Ini Menjadi Rumah Bagi Para Kuman dan Bakteri?
2. Wastafel
Bakteri sangat menyukai lapisan logam di keran, terutama yang sering basah. Sekitar 500 ribu bakteri sangat mungkin hidup di area tersebut. Selain itu, area wastafel di dapur juga biasanya lembab sehingga bakteri bisa semakin betah.
Pesan penting: Rutin bersihkan wastafel dengan cairan pembersih khusus setidaknya seminggu sekali. Jangan lupa untuk mengeringkannya setiap selesai digunakan.


3. Alas sepatu
Satu studi menemukan bahwa hampir 96 persen sol sepatu terkontaminasi dengan bakteri coliform, termasuk bakteri fecal. Jadi setiap kali Anda masuk ke dalam rumah dengan menggunakan sepatu, Anda sedang membawa masuk kuman dan bakteri juga.
Pesan penting: Lepaskan sepatu setiap kali memasuki rumah. Cuci sepatu setidaknya sekali dalam dua pekan. Untuk perlindungan ekstra, simpanlah sepatu dan alas kaki lainnya di area khusus yang tidak terlalu dekat dengan bagian dalam rumah.



4. Pegangan eskalator
Semua fasilitas umum bisa dibilang menjadi 'rumah' bagi berbagai jenis kuman dan bakteri, termasuk salah satunya pegangan eskalator yang biasanya ada di mal atau tempat umum lainnya. Dalam sebuah studi, 43 persen dari pegangan dan rel eskalator memiliki tingkat cukup tinggi kontaminasi untuk menyebarkan penyakit.
Pesan penting: Jika memungkinkan, hindari menyentuh pegangan eskalator. Namun apabila kondisi mengharuskan Anda untuk menyentuhnya, cuci tangan atau gunakan hand sanitizer segera sesudahnya.

5. Keranjang belanja atau troli
Puluhan orang menggunakan keranjang belanja dan troli yang sama setiap harinya, sehingga perpindahan kuman dan bakteri dari satu tangan ke tangan lainnya sangat mungkin terjadi.
Pesan penting: Sediakan tisu basah saat akan berbelanja, usapkan pada pegangan keranjang atau troli saat Anda hendak menggunakannya.
Sering Pingsan dan Nyeri Dada Saat Beraktivitas? Bisa Jadi Gangguan Jantung

Sering Pingsan dan Nyeri Dada Saat Beraktivitas? Bisa Jadi Gangguan Jantung

Sering Pingsan dan Nyeri Dada Saat Beraktivitas? Bisa Jadi Gangguan Jantung


Serangan jantung seringkali tak menunjukkan gejala berarti, terutama pada pada kaum muda. Oleh sebab itu, penting bagi Anda untuk mengenali kondisi-kondisi 'tak biasa' pada tubuh, seperti sering pingsan atau nyeri dada.

Menurut Dr dr Yoga Yuniadi, SpJP(K) dari RS Harapan Kita Jakarta, pemeriksaan yang lebih efektif terhadap kelainan pada jantung memang melalui elektrokardiogram (EKG). Namun ada beberapa kondisi yang tak harus diwaspadai.


"Misalnya sering pingsan. Itu gejala serius lho. Jangan anggap remeh kalau ada orang yang sering pingsan," tutur dr Yoga.


Selain itu, perhatikan juga jika Anda kerap mengalami nyeri dada. Ya, jika nyeri ini muncul ketika Anda sedang beraktivitas, kemudian berangsur-angsur hilang ketika kemudian Anda beristirahat, maka kemungkinan ada penyempitan koroner.


"Juga ketika misalnya tak sampai pingsan, tapi terasa jantung tiba-tiba berdebar sangat cepat dan berhenti dengan sendirinya. Pada usia muda atau di bawah 40 tahun, kondisi ini juga perlu diwaspadai," terang dr Yoga.


Untuk itu, dr Yoga berpesan sebaiknya pria berusia 45 tahun atau wanita berusia 55 tahun, atau yang masih di bawah usia tersebut tapi sudah mengalami gejala-gejala khas, untuk memeriksakan diri ke dokter dan melakukan check up.


"Soalnya kan penyakit jantung koroner juga mulai banyak di usia muda, karena faktor stres, sering makan fast food juga. Coba cek treadmill atau EKG juga," pesannya.
Sempat Tolak Ketemu Teman-temannya, Begini Kisah Maria Hadapi Kanker Payudara

Sempat Tolak Ketemu Teman-temannya, Begini Kisah Maria Hadapi Kanker Payudara

Sempat Tolak Ketemu Teman-temannya, Begini Kisah Maria Hadapi Kanker PayudaraJakarta, Diagnosis kanker payudara stadium 2B itu membuat Maria Sudiarta (57) terpuruk. Saking terpuruknya dia enggan bertemu dengan teman-temannya. Saat mendapati diagnosis kanker payudara, Maria merasa hidupnya tak lama lagi.

"Waktu itu saya sempat nggak terima dapat penyakit ini. Kenapa harus saya. Bahkan saya sempat menolak teman-teman yang datang. Tapi dukungan keluarga, suami, anak-anak membuat saya bangkit dan mau menerima," tutur Maria kepada detikHealth di sela-sela pertemuan para penyintas kanker payudara yang digelar Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) beberapa waktu lalu.

Saat itu Maria ingat benar, ketiga anaknya memberikan semangat sambil menangis. Mereka tidak mau Maria menyerah pada kanker payudara. "Kata anak-anak saya harus berobat, harus kuat. Ingat anak-anak dan keluarga membuat saya jadi semangat," kenang Maria akan peristiwa enam tahun lalu itu.

Baca juga: Karena Mammografi, Santi Bersyukur Tanda Kanker Payudaranya Segera Ketahuan

Maria sempat minum kunyit putih. Konon herba tersebut bisa membantu menghilangkan kanker dari tubuhnya. Meski demikian, Maria tidak meninggalkan pengobatan medis.

"Waktu didiagnosis itu saya stadium 2B. Saya pun nggak ada riwayat kanker payudara di keluarga. Setelah menjalani beberapa tes termasuk biopsi, keluar jadwal operasi. Saya takut sebenarnya. Tapi kan harus segera (dioperasi), kalau nggak nanti bisa menyebar lebih cepat," tutur perempuan asal Bali ini.

Akhirnya Maria merelakan payudara kanannya diangkat. Setelah itu dia pun harus menjalani kemoterapi. Saat kemo, dia merasa mual dan pusing sehingga susah makan. Namun karena ingin sembuh, Maria memaksakan diri untuk tetap makan.

"Mau nggak mau harus dipaksa. Kalau nggak makan mau dapat energi dari mana. Saya banyak makan buah dan sayur. Saya juga banyakin istirahat," imbuhnya.

Kata Maria, kanker payudara bisa menyerang siapa saja. Namun penyakit ini bukan akhir dari semua. "Hidup manusia itu tergantung Tuhan. Kita, manusia, yang berusaha menjaga kesehatan dan tubuh kita. Kalau sakit, kita harus berusaha mencari pengobatan," ucap Mario mengunci perbincangan.