Tampilkan postingan dengan label Zoologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zoologi. Tampilkan semua postingan
Owa Jawa terancam punah

Owa Jawa terancam punah

CII: Owa Jawa terancam punah

Jakarta - Conservation International (CI) Indonesia menyatakan Owa Jawa terancam punah akibat perdagangan ilegal hingga jumlah populasinya di hutan tinggal 5.000 ekor.

West Java Program Manager CI Indonesia, Anton Ario dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat mengatakan memburu satu anak atau bayi Owa Jawa untuk diperjualbelikan sebagai hewan peliharaan, sama halnya dengan membunuh satu keluarga Owa Jawa.

"Untuk memburu bayi Owa Jawa, pemburu akan membunuh induk tersebut. Sedangkan ayah Owa Jawa yang kehilangan anak dan pasangannya, umumnya akan depresi dan kemudian mati," katanya.

Owa Jawa atau "hylobates moloch" hidup di wilayah barat Pulau Jawa terutama di hutan-hutan di wilayah Banten, Jawa Barat hingga Pegunungan Dieng Jawa Tengah.
Ia juga menyatakan bahwa menjadikan Owa Jawa sebagai hewan peliharaan bukan merupakan bentuk rasa sayang binatang karena dengan begitu mereka tidak dapat hidup pada habitatnya di hutan.

"Hal tersebut juga meniadakan perannya sebagai indikator penting kesehatan hutan," ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa ada beberapa karakteristik Owa Jawa yang mirip seperti manusia antara lain berkeluarga dan tinggal menetap pada satu lokasi sebagai rumah. Selain itu, Owa Jawa juga bersifat monogami dan sangat setia. 


Ia menyatakan melalui Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa (Javan Gibbon Center/JGC) yang dibentuk pada 2003, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Yayasan Owa Jawa, Universitas Indonesia, dan CI Indonesia bekerja sama mendukung pelestarian Owa Jawa, khususnya pada kegiatan penyadartahuan dan upaya rehabilitasi sebelum melepaskan Owa Jawa ke alam liar. 


Sementara itu, Pristiani Nurantika, dokter hewan dari Yayasan Owa Jawa menyampaikan bahwa upaya rehabilitasi Owa Jawa sebelum dilepasliarkan perlu didampingi dengan intensif.


"Mulai dari perawatan kesehatan dan penyembuhan penyakit bila ada, rehabilitasi mengembalikan perilaku alami Owa Jawa agar bisa bertahan hidup di alam liar, sampai mempertemukan dengan pasangan sehingga mereka bisa berpasangan saat dilepaskan ke hutan," tuturnya.


Sejak 2013, kata dia, Yayasan Owa Jawa telah melepasliarkan 13 individu (3 pasang dan 2 keluarga Owa Jawa), 3 individu anakan Owa Jawa yang lahir di JGC juga turut dilepasliarkan bersama induk mereka. 
"Umumnya satu individu perlu waktu rehabilitasi selama 5 tahun tergantung kemampuan peningkatan perilaku dan kesehatan setiap individu dengan biaya perbulan untuk seluruh kebutuhan mereka sekitar Rp1.500.000 perindividu Owa Jawa," ujarnya. 

Menurutnya, saat ini ada 20 individu Owa Jawa yang sedang direhabilitasi di JGC, mayoritas adalah hewan peliharaan dari masyarakat yang tinggal di Jakarta, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Banten, Bandung, dan Ciamis. 
Pristiani menyampaikan harapan agar masyarakat menyadari peran penting spesies ini di hutan, serta berperan aktif melaporkan bila mendapati masyarakat yang masih memelihara atau perdagangan ilegal Owa Jawa.


"Nomor hotline Yayasan Owa Jawa di 0251-8224963 atau e-mail: jgc_owajawa@yahoo.com terbuka bagi siapa saja yang ingin melaporkan kasus perdagangan ilegal atau untuk mengembalikan Owa Jawa ke habitat alaminya di hutan. Pelestarian spesies ini pada ujungnya akan bermanfaat bagi kehidupan kita semua," ucap Pristiani.


CI Indonesia mencatat melalui berbagai penelitian mengenai jumlah Owa Jawa diperkirakan jumlah populasi yang tersisa di hutan Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah berada pada kisaran 3.000 hingga 5.304 ekor. 


Angka tersebut sepintas besar, namun satuan terkecil untuk Owa Jawabukan lah individu melainkan satu keluarga, di mana dalam satu keluarga Owa Jawa terdapat 3-5 individu yang terdiri sepasang induk serta 2-3 anak. 
Sistem keluarga, monogami dan teritorial itu lah yang menjadikan Owa Jawa rentan akan kepunahan. 


Sebagai primata pemakan buah, Owa Jawa berperan membantu penyebaran benih tumbuhan melalui kotoran mereka, yang kemudian tumbuh dalam proses pelestarian hutan secara alami. 
Secara nasional, spesies ini dilindungi melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.




Reff : Antaranews

Burung migrasi bisa terbang 10 bulan tanpa henti

Burung migrasi bisa terbang 10 bulan tanpa henti


Burung migrasi bisa terbang 10 bulan tanpa henti

Washington  - Para ilmuwan telah lama menyatakan burung layang-layang biasa berukuran sedang yang bermigrasi mungkin menghabiskan sebagian besar hidup mereka untuk terbang, tapi baru sekarang mereka membuktikan bahwa mereka bisa terbang selama 10 bulan, hampir satu tahun, tanpa mendarat.

"Temuan ini secara signifikan mendorong batasan bagi apa yang kita ketahui mengenai fisiologi hewan," kata penulis utama studi itu Anders Hedenstrom dari Lund University di Swedia dalam satu pernyataan.

"Fase terbang 10-bulan adalah waktu paling lama yang kami tahu dalam spesies burung apa pun. Ini rekor," katanya.

Sebelumnya, banyak ilmuwan telah mendapati burung frigate dan alpine dapat terbang terus-menerus selama tujuh bulan.

Untuk studi itu, para peneliti mengikuti 13 individu burung, beberapa di antaranya selama dua tahun berturut-turut, menggunakan log mikrodata yang dilekatkan pada masing-masing burung di Swedia Selatan.

Log-log data itu memungkinkan para peneliti menentukan apakah burung berada di udara atau tidak, percepatan mereka, dan di mana saja  mereka berada setiap waktu setelah meninggalkan tempat perkembangbiakan pada Agustus untuk bermigrasi ke Afrika dan sebelum kembali untuk musim perkembangbiakan selanjutnya 10 bulan kemudian.

Hasil penelitian menunjukkan sebagian burung mendarat sebentar pada malam hari, kadang sepanjang malam. Bahkan meski demikian burung-burung itu menghabiskan lebih dari 99,5 persen dari masa migrasi 10-bulan dan hibernasi mereka di udara.

Data dari burung lain memperlihatkan bahwa mereka tidak mendarat satu kali pun selama 10 bulan.

Aktivitas terbang burung-burung tersebut seringkali tampak lebih rendah pada siang hari dibandingkan pada malam hari, sangat mungkin karena burung menghabiskan siang hari untuk mencari arus udara hangat, kata para peneliti tersebut.

Hedenstrom mengatakan para peneliti belum mengetahui apakah atau bagaimanakah burung-burung itu tidur tapi "fakta bahwa beberapa burung tak pernah mendarat selama 10 bulan menunjukkan mereka tidur saat terbang".

Barangkali mereka menemukan waktu untuk tidur sebentar selama turun saat fajar dan senja, katanya sebagaimana dikutip kantor berita Xinhua.

Terlepas dari ongkos energetik tinggi terkait semua penerbangan itu, burung layang-layang juga mampu hidup lebih lama, berbeda dengan pendapat umum yang mengaitkan hidup yang berat dengan mati muda menurut hasil penelitian periset yang dipublikasikan di jurnal Current Biology.(Uu.C003)
Ilustrasi ekosistem air tawar (ANTARA/Anang Budiono)

Ilustrasi ekosistem air tawar (ANTARA/Anang Budiono)


VancouveR (ANTARA News) - Penelitian di Kanada menemukan bahwa emisi gas karbon meningkat ketika predator di puncak rantai makanan menghilang.

Studi yang dipimpin oleh beberapa peneliti dari University of British Columbia itu bertujuan mengukur peran yang dimainkan predator dalam pengaturan buangan gas pencemar.

Para peneliti mendapati bahwa ketika predator hilang, timbullah konsekuensi yang signifikan di sebuah ekosistem.

Di dalam studi tersebut, para peneliti menghilangkan semua predator dari tiga ekosistem air tawar yang terkendali di Kanada dan Costa Rica.

Hasilnya? Terdapat peningkatan hingga 93 persen gas karbon dioksida (CO2) yang dikeluarkan ekosistem air tawar tersebut. 

Hewan pemangsa adalah hewan lebih besar pada puncak rantai makanan dan makanan mereka terdiri atas semua hewan lebih kecil serta tanaman di dalam ekosistem, baik langsung maupun tidak.

Hasilnya ialah jumlah predator di dalam sebuah ekosistem mengatur jumlah semua tanaman dan hewan di posisi lebih rendah dalam rantai makanan.

Tanaman dan hewan lebih kecil itulah yang memainkan peran besar dalam mengikat atau mengeluarkan karbon.

"Kami tahu predator membentuk ekosistem dengan mempengaruhi berlimpahnya hewan dan tanaman lain, tapi sekarang kami mengetahui dampak mereka membentang sampai jauh ke tingkat biokimiawi," kata Trisha Atwood, penulis utama studi tersebut.

Namun, "hewan pemangsa mulai hilang dari ekosistem kita dengan jumlah yang mengkhawatirkan akibat perburuan, penangkapan ikan dan perubahan yang ditimbulkan oleh manusia pada habitat mereka, sehingga dapat menimbulkan dampak besar pada perubahan iklim".

"Manusia memainkan peran besar pada kemerosotan jumlah predator dan studi kami memperlihatkan ini memiliki dampak global yang penting bagi perubahan iklim dan gas rumah kaca," kata Atwood.
(C003)
10 Jenis Laba-Laba dan Kemampuannya

10 Jenis Laba-Laba dan Kemampuannya

Laba-laba, di antara hewan predator lainnya adalah spesies yang terbilang angat sukses dalam kerajaan binatang, hal ini dimungkinkan dengan kekuatan dan keahlian serbaguna yang mereka miliki, kaki mereka dirancang agar dapat melalui medan apapun, taring mereka bak racun korosif, dan mereka bisa mengeluarkan zat perekat yang bahkan 25 kali lebih kuat dari baja
Mungkin anda akan berfikir bahwa laba-laba tidak membutuhkan hal-hal lain untuk hidup dengan apa yang telah mereka miliki, namun laba – laba memperlihatkan spesialisasi lain yang tidak biasa..berikut ini 10 daftar kekuatan super dari laba-laba
1. Mimikri semut

Yang cukup menarik, ada ratusan spesies laba-laba – kebanyakan dari adalah laba – laba pelompat – yang sangat mirip semut. Ya, itu adalah laba-laba pada gambar di atas.
Beberapa arachnida menggunakan penyamaran ini untuk berburu serangga yang tidak takut semut, atau untuk melindungi diri dari predator pemangsa laba-laba. Lainnya, tentu saja, mungkin memangsa semut itu sendiri, seperti serigala berbulu domba.(ini tidak bisa dilakukan spiderman)
2. Raja Kamuflase 

Beberapa spesies bisa membuat jaring yang mirip sutera, dan mangsa-mangsa lama bisa disimpan dengan balutan seperti mummy dalam jangka waktu lama, warna jaring yang mirip warna mereka menciptakan kamuflase lain bagi laba-laba..Hal ini berguna untuk membingungkan predator terbang seperti capung, lalat perampok atau burung kecil yang mungkin mencoba untuk menukik demi memangsa laba-laba lezat dari sarangnya.


3. Kotoran palsu

Celaenia excavata bukan laba-laba yang hanya menyamarkan diri sebagai segumpal kotoran burung, tapi jelas ini adalah penyamaran paling meyakinkan.
Tidak hanya tubuh laba-laba berwarna persis seperti kotoran burung (lengkap dengan tempat mirip benih) Namun duduk di atas sebuah “splatter” sangat meyakinkan dibuat dari sutranya sendiri. Itu penyamaran yang sempurna untuk laba-laba, karena itu sangat tidak menggugah selera bagi laba-laba predator lainnya tapi tampak menggoda bagi seekor lalat.(ini tidak bisa dilakukan spiderman)
4. Koloni Jaring Super

Kebanyakan laba-laba bersifat agresif soliter, yang mengancam hewan lain bahkan spesies mereka sendiri jika mereka mencoba merebut makanan di daerahnya. namun beberapa spesies, sangat sosial dan dapat membangun kekaisaran laba-laba yang luar biasa, sistem web kompleks bersama ribuan laba-laba lain.
Salah satu laba-laba tersebut adalah Eduador’s Theridion nigroannulatum,laba-laba dalam kelompok besar, menggantung ratusan helai sutra ke tanah. Dan jika seranggga berukuran besar mampir dan terjebak dalam sarang besar mereka ratusan bahkan ribuan laba-laba akan bahu membahu membungkusnya dan melumpuhkannya untuk disimpan sebagai setok bersama (ini tidak bisa dilakukan spiderman)
5. Laba – Laba Penerbang

Laba-laba yang baru menetas dan berukuran kecil dapat melakukan perjalanan ratusan bahkan ribuan mil dalam istilah yang biasa di sebut ballooning, jaring laba-laba khusus yang disebut “gossamer” dibuat agar bisa dengan mudah terbang oleh angin, berbentuk segitiga piramid, jaring ini bisa berminggu-minggu berada di udara sehingga memungkinkan laba-laba untuk menjelajah pulau-pulau lain yang terpisah lautan atau samudera .. (ini tidak bisa dilakukan spiderman)
6. Jaring tangan mini

Species laba-laba “Ogre Faced” atau “Net casting” adalah laba-laba yang menghasilkan Deinopidae, dengan tergantung terbalik dia membuat jaring kecil diantara dua kaki depannya untuk mereka gunakan menjangkau atau meraup serangga lain yang lewat
Sutra khusus ini bersih dan tidak lengket, tapi begitu mangsanya berusaha kabur, jaring itu langsung menjerat rambut dan sendi serangga seperti velcro, yang memungkinkan laba-laba untuk menjebak serangga yang cukup besar dan kuat dengan hanya sejumlah kecil dari sutra.
7. Jebakan Bunga

banyak laba-laba yang berada di taman-taman membuat sarang tipis dengan pola yang berbeda, tujuan dari hal ini telah lama jadi perdebatan, Sekarang kita tahu bahwa hal ini adalah jaring khusus yang reflektif terhadap sinar ultra-violet yang menciptakan pola – pola khusus yang digunakan oleh bunga untuk menarik serangga penyerbuk ..(ini tidak bisa dilakukan spiderman)
8. Pesona Mematikan

Yang aneh lagi dari laba-laba bola atau mastophorea, yang menggunakan jerat mereka dengan cara yang beda dengan arakhnida lainnya, yaitu mengeluarkan jaring yang digumpalkan mirip bola lalu diulur dengan tali plus ditambah umpan (mirip orang mancing)
Setiap laba-laba bola mengeluarkan feromon yang bisa menarik ngengat jantan yang sedang mencari pasangan di musim kawin, sehingga ngengat jantan mendekat dan terjerat dalam umpan tersebut..(ini tidak bisa dilakukan spiderman)
9. Laba – Laba Penyelam

Argyroneta aquatica adalah salah satu laba-laba sejati yang dapat ditemukan di dalam air, ia mendapat nama “Laba-laba Penyelam.” tubuhnya yang berbulu halus adalah sebagai perangkat yang memungkinkan udara terus menempel padanya saat menyelam, sehingga laba-laba ini bisa keluar masuk air
jaringnya yang tersusun mirip seperti kapal selam buatan manusia, yang menjadi tempat bagi sang betina membesarkan anaknya dan mengkonsumsi mangsanya ..(ini tidak bisa dilakukan spiderman)
10. Laba – Laba Penembak

Hampir semua laba-laba membuat sutera dari organ yang disebut pemintal di ujung perut, dan harus mampu menyentuh sesuatu untuk membungkusnya dalam anyaman. Tidak demikian untuk genus Scytodes, laba-laba tukang meludah, yang memiliki kelenjar sutra tambahan terhubung ke mulut mereka. Perlahan-lahan merayap mendekati serangga lain yang tidak curiga, lalu meludah menyemprotkan aliran jaring yang dicampur dengan racun .
'Monster' Air Tawar

'Monster' Air Tawar

Mungkin sebagian dari kita hanya mengetahui ikan piranha sebagai ikan air tawar yang paling mengerikan, namun ternyata masih banyak ikan air tawar lainnya yang secara fisik sangat unik dan menyeramkan. Berikut ini beberapa ikan dengan bentuk fisik unik yang pernah ditemukan di berbagai negara.
1. African Lungfish
Makhluk sungai yang cukup aneh menurut admin. Bagi orang yang belum pernah melihatnya, pasti akan mengira makhluk ini sebagai monster karena bentuknya yang menyeramkan.

Namun, meskipun bentuknya mengerikan, hewan ini sama sekali tidak berbahaya. Ikan ini beradaptasi dengan lingkungannya yang kurang oksigen, sehingga membuat ikan ini jarang terlihat oleh manusia.

2. Goliath Tigerfish
Mendengar namanya saja, kita sudah tahu jika makhluk ini bukan makhluk sembarangan. Dengan panjang mencapai 1,5 meter lebih dan gigi yang tajam, tentu banyak orang yang takut dengan tampang seram ikan ini.
Goliath Tigerfish merupakan varian terbesar dalam keluarga Tigerfish, dan merupakan predator yang hebat. Ikan ini terkenal akan kekuatan dan kecepatannya.

3. Vampire Piranha
Piranha Vampir merupakan kerabat dekat dari ikan piranha yang terkenal dari sungai Amazon. Ikan ini dinamakan vampir piranha karena gigi taringnya yang dapat mencapai 6 inci. Ikan piranha yang jarang diketahui ini hidup di sungai Orinoco, Venezuela.

4. Mekong Giant Catfish

Pasti sebagian besar pembaca sudah mengetahui ikan yang satu ini. Ikan yang hampir mirip dengan hiu paus ini merupakan ikan air tawar terbesar yang pernah ditemukan dan berasal dari China. Ukuran terbesarnya lebih mendekati paus ketimbang ikan air tawar pada umumnya.

5. Bagarius Yarelli
Dikenal juga sebagai “Yeti dari sungai” atau Ikan lele pemakan daging. Ikan ini mempunyai gigi – gigi tajam dengan panjang mencapai 1 inci. Bahkan, ikan yang habitatnya tersebar di beberapa negara di Asia ini dikatakan suka memakan daging manusia, walaupun masih sebatas rumor.

6. Alligator Gar
Makhluk sungai yang satu ini tampak seperti perpaduan antara alligator dengan ikan. Hewan yang hidup di Amerika Utara ini jarang berburu mangsa, namun menunggu mangsa yang lewat di depan mulutnya, kemudian ia menerkamnya dengan kecepatan yang luar biasa.

7. Pirarucu
Sekilas Pirarucu mirip sekali dengan ikan arwana yang terkenal di Indonesia, ikan ini pun memiliki kesamaan dengan ikan arwana, yaitu sama – sama suka melompat ke udara untuk berburu maupun menghirup udara.
Ikan ini sejatinya tidak berbahaya, namun jika merasa terancam, ia akan menggunakan kepalanya untuk senjata pertahanan diri.

8. Chinese Paddle Fish

Ikan yang berasal dari China ini memang unik. Banyak orang yang mengatakan jika ikan ini adalah ikan dengan wajah terburuk di dunia. Meskipun mendapat julukan sebagai Raja Sungai Yangtze, namun ikan ini diduga telah punah.

9. Piraiba Catfish
Ikan yang panjangnya bisa mencapai 3 meter dengan berat 272 kg ini membuat takut sebagian besar pemancing. Ikan ini terkenal akan kekuatannya, bahkan ikan ini dikatakan mampu membuat seorang manusia tenggelam karena kekuatannya.
Banyak rumor yang beredar jika penyebab pemancing–pemancing yang hilang ketika memancing di sungai adalah karena diseret oleh ikan ini kedalam sungai hingga tenggelam.

Parah! Capung di Indonesia Terancam Punah

Kini 700 jenis capung di Indonesia, dan 136 jenis di antaranya bisa ditemukan di pulau Jawa
terancam punah

World Dragonflies Association (WDA) atau komunitas pecinta capung internasional yang berpusat di Inggris mencatat, capung di Indonesia terancam punah.

Ketua Indonesia Dragonfly Society (IDS) Wahyu Sigit mengemukakan, catatan dari WDA berdasarkan temuan PBB yang menyebutkan kondisi perairan di Indonesia sangat memprihatinkan. Menurutnya, kehidupan capung sangat tergantung pada kondisi air.

"Di beberapa daerah yang terdapat air, sudah banyak tidak ditemukan capung. Di Malang, capung tidak ditemukan di Talun atau sepanjang Sungai Brantas,” kata Sigit.

Sebenarnya, capung sudah akrab dengan kehidupan masyarakat di Indonesia. Terbukti capung memiliki nama berbeda di setiap daerah. Orang Sunda menyebutnya papatong, di Jawa dikenal kinjeng, coblang, gantrung, atau kutrik. Orang Banjar mengenal kasasiur, dan di Flores disebut tojo.

Meski banyak istilah untuk menyebut hewan ini, ternyata tidak banyak buku tentang capung untuk lebih mengakrabkan hewan pemakan jentik nyamuk dan hama di sawah.

Berdasar catatan IDS, hinggga kini hanya dua buku karya orang Indonesia yang membahas tentang capung,  yitu ‘Mengenal Capung’ karya Shanti Susanti terbitan Puslitbang Biologi-LIPI tahun 1998, dan kumpulan esai berjudul ‘Capung Teman Kita’ yang diterbitkan Pelestarian Pusaka Indonesia pada 2011 lalu.

“Ahli serangga di Indonesia sudah sangat banyak, tapi tidak ada yang mengambil spesifikasi pada capung. Bahkan anak-anak sekolah saja, banyak yang tidak tahu capung,” tambahnya.