Tampilkan postingan dengan label Kuningan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuningan. Tampilkan semua postingan

Predator Baru “Serbu” Gunung Ciremai


KuninganSering ditemukannya kijang yang masuk ke wilayah permukiman penduduk di sekitar lereng Gunung Ciremai akhir-akhir ini, disebabkan banyaknya hewan predator baru yang masuk ke kawasan gunung tersebut. Sehingga hewan liar keluar dari habitatnya pada ketinggian antara 1.500 sampai 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Hal itu terungkap saat petugas Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) akan melepas seekor kijang ke kawasan Ciremai blok Lambosir, sekitar Desa Setianegara, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Senin (26/9/2016).
“Berdasarkan identifikasi kami melalui kamera jebakan (trap), terpantau telah terjadi penambahan jenis predator baru, yaitu anjing-anjing para pemburu liar yang tertinggal di dalam kawasan Gunung Ciremai. Hitungan saya pribadi di Palutungan ada 25 ekor anjing kampung yang sering dibawa berburu dan tertinggal atau tersesat di hutan kawasan Ciremai,” ungkap tenaga fungsional Pengendali Ekosistem Hutan TNGC, Idin Abidin.
Sehingga dengan adanya predator buas di kawasan tersebut, kata Idin, kijang berupaya menyelamatkan diri dan memilih keluar dari habitatnya. Peristiwa ini pernah terjadi di sekitar Desa Setianegara, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan hingga masuk lubang galian.
“Hal ini sudah kami laporkan ke kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC), nanti akan ada tindakan terhadap anjing itu. Apakah pengusiran, penangkapan atau perlakuan yang lain,” ujarnya.
Selain itu, Idin juga memastikan perbedaan anjing hutan dan anjing kampung yang berkeliaran di hutan dari aspek morfologi. Sehingga hewan yang berkeliaraan itu merupakan anjing peliharaan yang tertinggal di hutan kawasan Ciremai saat dibawa berburu.
“Tapi yang jelas hasil identifikasi kita, ini bukan hanya di Palutungan. Tetapi juga ada di Seda dan tempat-tempat yang lainnya. Kalau daerah Majalengka tidak terlaporkan, tetapi kemungkinan besar ada,” tuturnya.

Desa Pamulihan (Subang) Rawan Terjadi Gerakan Tanah Susulan

Desa Pamulihan (Subang) Rawan Terjadi Gerakan Tanah Susulan

Kuningan - Hasil pemeriksaan Badan Geologi terhadap kejadian bencana di Desa Pamulihan Kecamatan Subang menyatakan, lokasi tersebut berpotensi terjadi gerakan tanah susulan, sehingga disarankan apabila terjadi hujan berkepanjangan pada areal bencana kemarin agar mengungsi dilokasi yang aman.
Hasil pemeriksaan tersebut tertuang dalam surat dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI dengan nomor surat 2619/45/BGL.V/2016 perihal laporan singkat pemeriksaan lokasi tanah longsor dan rencana relokasi di Desa Pamulihan kecamatan Subang, yang ditujukan kepada Kepala BNPB, Gubernur Jawa Barat dan Bupati Kuningan.
Selain itu, retakan tanah harus segera ditutup dengan tanah lempung dan dipadatkan agar air permukaan tidak masuk dan menjenuhi tanah.
Di areal bencana juga diimbau untuk ditanami dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan pergerakan lereng. Selanjutnya perlu dibuat saluran drainase kedap untuk menjaga air permukaan tidak masuk keareal bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Kuningan, Agus Mauludin mengatakan, surat dari Badan Geologi tersebut sebagai bahan pemerintah daerah untuk menentukan rencana relokasi, sebab selain rekomendasi teknis juga terdapat rekomendasi koordinat lokasi untuk relokasi.
“Ada tiga titik rencana relokasi yang diberikan. Salah satunya tidak layak untuk relokasi pemukiman tapi hanya untuk hunian sementara dengan rumah kayu atau tidak permanen, sedangkan dua koordinat lainnya dinyatakan layak,” kata Agus, Sabtu (1/10).
Sementara itu, Bupati Kuningan, H Acep Purnama mengaku, akan mengikuti saran dari Badan Geologi dan secepatnya akan direalisasikan karena menyangkut keselamatan warganya.
“Saya sudah terima hasil kajianBadan Geologi, kita akan segera merelokasi para korban kemarin dilokasi yang sudah dinyatakan aman,” kata Acep.
Selain itu, Acep juga meminta kepada masyarakat yang berada didaerah rawan bencana agar lebih waspada karena kondisi cuaca saat ini masih belum bisa ditebak. Bahkan dalam hasil kajian Badan Geologi juga meminta kepada masyarakat ketika terjadi hujan lebat agar mengungsi ke daerah yang aman.
“Saya mengimbau agar masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, khususnya yang kemarin di Pamulihan agar selalu waspada dan siaga ketika hujan dengan intensitas tinggi turun,” kata Acep.

Gempur Siap Kerahkan Massa Tolak Tambang Geothermal di Kuningan

Gempur Siap Kerahkan Massa Tolak Tambang Geothermal di Kuningan

Gempur Siap Kerahkan Massa Tolak Tambang Geothermal di KuninganKUNINGAN – Setelah beberapa pekan ini terdiam soal rencana dibukanya kembali pertambangan geothermal, kini Gerakan Massa Pejuang Untuk Rakyat (Gempur) tampaknya mulai beraksi.
Selasa (4/10) mendatang, mereka berencana melakukan aksi turun ke jalan menolak ekploitasi geothermal tersebut. Surat pemberitahuan rencan aksi mereka pun sudah dilayangkan ke pihak kepolisian dan DPRD Kabupaten Kuningan.
Bahkan, sebelum mendatangi gedung dewan untuk menyampaikan surat pemberitahuan, beberapa aktivisnya sempat mendatangi Pendopo meminta agar Bupati Kuningan, Acep Purnama mencabut statemen soal geothermal.
Pada saat melayangkan surat pemberitahuan ke gedung dewan, beberapa perwakilannya sempat memasuki ruang kerja Ketua DPRD, Rana Suparman. Mereka menyampaikan rencana aksi menolak pertambangan geothermal di Kuningan.
“Sebab sengketa administrasi di wilayah BTNGC dan rencana pemanfaatan panas bumi sungguh telah membuat resah masyarakat yang berada di kawasan Gunung Ciremai. Seperti contoh di Desa Trijaya, Kecamatan Mandirancan,” terang Okky Satrio, salah seorang aktivis Gempur.
Koordinator Gempur Desta menguatkan, aksi nanti itu hanya penyampaian aspirasi. Dia berharap, pemerintah memikirkan nasib masyarakat dalam menghadapi mega proyek panas bumi nanti.
Jangan sampai upaya penolakan Gempur terhadap geothermal malah dianggap negatif oleh bupati. “Kita ingin nasib rakyat yang diprioritaskan. Lantas apakah sikap penolakan kita itu akan dinilai negatif oleh bupati kita?,” ketusnya.
Dalam menyambut kedatangan Gempur, Ketua DPRD Rana Suparman meminta agar aksi Gempur diundur. Pasalnya dalam dua hari usai akhir pekan, para pimpinan dewan akan menjalankan tugas ke pemerintah pusat. (ded)

Mengapa harus geothermal?

Masih hangat wacana tentang eksplorasi sumber daya alam panas bumi di kabupaten kuningan. Sedikit mengulas, latar belakang eksplorasi energi panas bumi atau geothermalini adalah karena semakin menipisnya cadangan sumber energi fosil yang tersedia di bumi. Maka dari itu pemerintah berupaya mencari solusi yang terbaik untuk menghadapi kemungkinan terburuk akibat dari kondisi tersebut. Kuningan memiliki kekayaan alam panas bumi yang sangat mungkin digunakan sebagai sumber energi alternatif.
Namun apakah Kuningan hanya memiliki geothermal? Saya punya pendapat lain tentang ini. Mari cermati, sebutkan tempat wisata yang  terdapat di Kabupaten Kuningan! Linggarjati, cigugur, waduk darma, balong dalem, sangkanurip, talaga remis, sidomba, dan masih banyak lagi. Coba cermati lagi, hampir seluruhnya tempat wisata tadi berbasis air, air ini kemudian dialirkan ke sungai-sungai dan melintasi kabupaten kuningan ke arah timur. Air ini kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya (misalnya pertanian).
Kenapa harus geothermal yang dipilih? Padahal megaproyek ini membutuhkan banyak air untuk setiap kali injeksi ke pusat bumi nantinya. Apakah nantinya kita masih bisa melihat tempat wisata di Kuningan? Atau kuningan yang kaya energi namun miskin air untuk kebutuhan hidupnya? Kita bukan robot yang hidup dengan listrilk kan?
Saya secara pribadi cenderung lebih setuju jika pemerintah memaksimalkan potensi air sebagai penggerak turbin untuk menghasilkan listrik. Dengan begitu secara tidak langsung kita akan turut menjaga air dari hulu hingga ke hilir. Berikut saya bandingkan beberapa keuntungan geothermal project vs. listrik tenaga air:

1.   Renewable Energi.
Geothermal adalah salah satu sumber energi terbarukan, ini berarti kebalikan dari energi fosil yang akan habis karena alam membutuhkan waktu lama untuk membentuk kembali sumber energi ini. Namun energi terbarukan tidak hanya panas bumi, banyak sumber energi lain yang bisa kita eksplorasi, misalnya, air, angin, cahaya matahari, biomassa, dll. Karena menurut James Prescott Joule, Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Namun geothermal membutuhkan banyak air untuk menghasilkan energi saat menginjeksi ke pusat bumi, namun  listrik tenaga air hanya memanfaatkan pergerakan alami dari aliran air, hanya perlu rekayasa ketinggian untuk menghasilkan energi yang lebih besar.
2.   Konservasi
Karena membutuhkan air, maka pemegang proyek geothermalakan berperan aktif dalam konservasi hutan sebagai penyangga air. Mereka akan turut serta menjaga hutan dan melestarikannya. Tapi apakah air yang tersedia nantinya untuk masyarakat, atau untuk mereka? Atau apakah cukup untuk memenuhi kebutuhan semuanya?
Pembangkit listrik tenaga air pun sama-sama membutuhkan air, namun mungkin terdapat perbedaan dalam penggunaannya. Sama-sama mendukung konservasi hutan dan kita tidak terlalu khawatir (berebut) air nantinya. Kita masih bisa melihat air di tempat wisata sekarang  ini, kita masih bisa melihat air di sungai, petani masih bisa mengairi sawah serta ladangnya, kita masih bisa melihat keramba ikan atau bahkan melihat orang memancing untuk sekedar mengurai penatnya.
3.    Ekonomi
Alasan pemerintah melelang proyek ini adalah karena besarnya biaya yang dibutuhkan untuk membangun proyek ini. Bahkan membutuhkan waktu kurang lebih 30 tahun untuk mencapai break event point atau titik impasnya. Maka dari itu pemerintah melelangnya dan tender ini dimenangkan PT Chevron.
Walaupun  nantinya dikelola perusahaan asing namun mereka masih membuka kesempatan masyarakat lokal untuk bekerja pada perusahaan tersebut, sehingga membuka lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat lokal. Namun sudah sesuaikah kualifikasi sumber daya manusianya? Atau mungkin kita hanya disediakan untuk sebagai karyawan biasa? Bukan bermaksud buruk sangka, namun kita hanya perlu belajar dari pengalaman, misalnya, apakah setelah sekian waktu masyarakat papua sudah sejahtera karena privot?
Sungai modern di jakarta.
 Jika yang dipilih adalah pembangkit listrik tenaga air maka akan lebih banyak putra bangsa yang terlibat. Kita akan menjaga hutan, menjaga sungai, menjaga kearifan lokal yang saya pikir masih terjaga meskipun hanya karena mitos-mitos dari para pendahulu kita. Kita masih bisa melihat para petani mengairi sawah dan ladangnya, melihat petani  memandikan kerbaunya di sungai, atau bahkan jika pemerintah serius, pemandangan seperti itu bisa menjadi daya tarik wisata baru yang sangat berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dan di hilir dibentuk bendungan untuk pembangkit listrik.
Saya membayangkan nantinya wisatawan masih bisa berarung jeram dan melihat aktifitas para petani tadi, ini sangat potensial mengingat tempat ini adalah sumber ion negatif yang bisa mengurai stress, para wisatawan akan sangat merindukan suasana menyenangkan seperti ini.  Bahkan tepian sungai jika dibangun jalur sepeda atau taman bermain lain, tentu dengan seperti itu akan lebih banyak membuka lapangan pekerjaan karena akan semakin banyak hal menarik yang bisa diolah oleh masyarakat. Jika lebih serius nantinya akan lebih baik jika sungai dijadikan jalur transportasi air. Ini akan sangat indah saya pikir jika dibanding pengeboran geothermal yang membisingkan dan bahkan dari beberapa sumber menyebutkan bisa menyebabkan gempa periodik.
Transportasi air modern
Olahraga air
    
4.    Sosial budaya
Menurut pemerintah terkait, nantinya akan ada orang asing yang bermukim di kuningan, dengan begitu akan terjadi pertukaran budaya kita dengan mereka. Namun pertanyaannya budaya seperti apa yang dimaksud? Kita sudah kewalahan dengan perubahan budaya karena serapan dari budaya asing, apa nantinya budaya kita harus benar-benar berubah?
Padahal jika kita mengembangkan potensi wisata sebagai akibat tidak langsung dari proyek pembangkit listrik tenaga air tadi, kita bisa ‘menjual’ budaya warisan dari para pendahulu kita.
5.   Ekologi
Saya secara pribadi khawatir nantinya tidak bisa lagi melihat ikan hidup di sungai karena kering tak berair, tidak bisa lagi melihat sawah karena tanah tak mungkin lagi ditanam padi, dan selanjutnya. Yang terburuk adalah kita lagi-lagi harus impor makanan dari luar. Jika negara ini keamanannya diancam negara lain, maka habislah kita. Kita bangsa Indonesia, kita harus mandiri. Kita dapat salam dari para penerus generasi kita, jangan egois. Belajarlah dari induk ayam yang berusaha keras menjaga suhu tubuhnya dengan berpuasa, itu semua demi generasi penerusnya. Tentu kita tidak lebih rendah dari ayam, kita harus berpikir lebih jauh dari mereka karena kita adalah makhluk berakal.

Referensi:
“Orang-orang Gila” Bertamu Ke KPUD dan Panwaslu Kab. Kuningan

“Orang-orang Gila” Bertamu Ke KPUD dan Panwaslu Kab. Kuningan

Foto demonstran  mengunjungi kantor KPUD dan Panwaslu Kabupaten Kuningan

Ciremaipost – Beberapa “orang-orang gila” berpakaian compang camping dengan muka coreng moreng serta dandanan khas mereka lengkap mengunjungi Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Kuningan, Rabu (3/10).

“Orang-orang gila” ini bertamu dan menyampaikan aspirasi ke KPUD dan Panwaslu menyoal dugaan adanya kecurangan pada proses perekrutan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) di Kabupaten Kuningan.

Bukan sembarang “orang-orang gila” tentunya yang datang, apalagi sampai diterima langsung Ketua KPUD amupun Ketua Panwaslu. “Orang-orang gila” ini adalah para seniman muda Kuningan yang tergabung di Teater Banyu.


Ketua KPUD, Endoen Abdul Haq, membenarkan mendengar isu-isu menyoal berbagai hal di ranah Pra Pemilu. “Namun, berbagai isu tersebut tengah kami verifikasi validitasnya, apakah benar atau sekedar isu. Kalau benar, tentu kami pun akan menyerahkan pada lembaga berwenang di ranah ini, yakni Panwaslu”, tutur Endoen.

Ketua Teater Banyu, Deki Zainal, kepada wartawan memaparkan dirinya mengakui memiliki bukti-bukti dan saksi tentang adanya penyimpangan rekruitmen PPK tersebut.

Seusai berdialog dengan KPUD, rombongan Teater Banyu menuju Sekretariat Badan Panwaslu. Ketua Panwaslu, Ujang M. Abdul Azis, SPd, MM, di ruang kerjanya saat menerima “orang-orang gila” ini menyampaikan, “Panwaslu belum menerima pelaporan apapun dari pihak masyarakat ataupun yang dirugikan. Untuk dasar tindakan dan memproses suatu masalah berkenaan dengan proses-proses Pra Pemilu ini, kami memiliki dua rambu. Pertama, temuan langsung oleh panwaslu dan kedua, adanya laporan tertulis dengan dilengkapi berkas bukti kasus”.

“Dan bila ada suatu kejanggalan ataupun kecurangan dan lain-lain, kami minta disampaikan resmi. Sedangkan penyampaian aspirasi dari rekan-rekan teater banyu seperti ini, kami terima sebagai dukungan moril untuk kinerja panwaslu”, pungkasnya. Hal ini diamini oleh Ali Hanafiah SH (anggota Pokja Panwaslu) yang turut mendampingi Ketua Panwaslu saat menerima tamu “orang-orang gila” tersebut. (dan/l.hakim)